random snippets from my reading

Karawang – Bekasi

In Book on August 18, 2011 at 8:28 pm

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Advertisements

Karena Semua Tak Sama

In Book on August 10, 2011 at 10:16 pm

Kita semua menempuh jalan yang berbeda tetapi kita akan tiba di tempat yang sama. Sepenggal kalimat yang menggambarkan semangat zaman sekarang ini. Orang menyebutnya postmodern, zaman sesudah era modern. Dalam zaman ini, kebenaran mutlak dinafikan sementara setiap kebenaran subyektif dirangkul, semua kepercayaan diterima, semua agama sama. Semua hanya berbeda jalan tetapi berakhir pada satu tempat yang sama.

Dalam latar zaman seperti ini, buku berjudul “Yesus di Antara Allah-Allah Lain” karya Ravi Zacharias, muncul membawa semangat yang sama sekali berbeda dengan zamannya. Judul buku yang cenderung provokatif di tengah maraknya semangat relativitas dalam era postmodern. Melalui judul bukunya, dia menawarkan suatu keunikan dalam pribadi Yesus. Keunikan yang menurutnya membedakan Yesus dengan pribadi-pribadi lain yang mengajukan klaim diri mereka sebagai allah atau nabi. Dalam buku ini, Ravi Zacharias memaparkan “pembelaan”-nya terhadap keunikan iman Kristen yang tampak melalui pribadi utamanya yaitu Yesus Kristus, yang adalah Allah itu sendiri (hal. 9).

Seputar Bumi Manusia

In Book on August 10, 2011 at 1:29 am

Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri – Nyai Ontosoroh, hal. 59.

Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan – Jean Marais, hal. 77.

Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya – Jean Marais, hal. 81.

Manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi –  Nyai Ontosoroh,  hal. 101.

Hidup bisa memberika segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima –  Nyai Ontosoroh,  hal. 105.

Mereka telah bikin aku jadi nyai begini. Maka harus jadi nyai jadi budak belian, yang baik, nyai yang sebaik-baiknya – Nyai Ontosoroh, hal. 128.

Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku BUMI MANUSIA dengan persoalannya – Minke, hal. 186.

Kehidupan senang bagiku bukan asal pemberian, tapi pergulatan sendiri – Minke, hal. 231.

Ketakutan itu kebodohan awal yang akan membodohkan semua – Nenenda Minke, hal. 310.

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai – Magda Peters, hal. 313.

Apa guna sekolah lagi, Ndoro, kalau semua sudah cukup? Ya, apa gunanya? Tapi kalau sekolah ini tak aku tamatkan, Juki, rasanya aku takkan lulus dalam soal-soal lain – Minke, hal. 436.

Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya – Nyai Ontosoroh, hal. 535.

Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer.