Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri – Nyai Ontosoroh, hal. 59.
Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan – Jean Marais, hal. 77.
Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya – Jean Marais, hal. 81.
Manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi – Nyai Ontosoroh, hal. 101.
Hidup bisa memberika segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima – Nyai Ontosoroh, hal. 105.
Mereka telah bikin aku jadi nyai begini. Maka harus jadi nyai jadi budak belian, yang baik, nyai yang sebaik-baiknya – Nyai Ontosoroh, hal. 128.
Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku BUMI MANUSIA dengan persoalannya – Minke, hal. 186.
Kehidupan senang bagiku bukan asal pemberian, tapi pergulatan sendiri – Minke, hal. 231.
Ketakutan itu kebodohan awal yang akan membodohkan semua – Nenenda Minke, hal. 310.
Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai – Magda Peters, hal. 313.
Apa guna sekolah lagi, Ndoro, kalau semua sudah cukup? Ya, apa gunanya? Tapi kalau sekolah ini tak aku tamatkan, Juki, rasanya aku takkan lulus dalam soal-soal lain – Minke, hal. 436.
Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya – Nyai Ontosoroh, hal. 535.
Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer.