Kita semua menempuh jalan yang berbeda tetapi kita akan tiba di tempat yang sama. Sepenggal kalimat yang menggambarkan semangat zaman sekarang ini. Orang menyebutnya postmodern, zaman sesudah era modern. Dalam zaman ini, kebenaran mutlak dinafikan sementara setiap kebenaran subyektif dirangkul, semua kepercayaan diterima, semua agama sama. Semua hanya berbeda jalan tetapi berakhir pada satu tempat yang sama.
Dalam latar zaman seperti ini, buku berjudul “Yesus di Antara Allah-Allah Lain” karya Ravi Zacharias, muncul membawa semangat yang sama sekali berbeda dengan zamannya. Judul buku yang cenderung provokatif di tengah maraknya semangat relativitas dalam era postmodern. Melalui judul bukunya, dia menawarkan suatu keunikan dalam pribadi Yesus. Keunikan yang menurutnya membedakan Yesus dengan pribadi-pribadi lain yang mengajukan klaim diri mereka sebagai allah atau nabi. Dalam buku ini, Ravi Zacharias memaparkan “pembelaan”-nya terhadap keunikan iman Kristen yang tampak melalui pribadi utamanya yaitu Yesus Kristus, yang adalah Allah itu sendiri (hal. 9).
“Pembelaan” tersebut terangkai dalam suatu analisis yang mendalam terhadap jawaban-jawaban Yesus akan enam pertanyaan dasar yang diajukan dalam buku ini. Setiap kepercayaan menurutnya harus mampu menghadapi ujian pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jawaban-jawaban tersebut dikontraskan dengan jawaban-jawaban yang ditawarkan oleh pribadi dalam agama-agama (khususnya Islam, Hinduisme, dan Buddhisme) dan wawasan-wawasan dunia (khususnya naturalisme, skeptisisme, dan ateisme) lainnya. Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya dengan cara yang sama sekali berbeda dengan siapa pun. Sehingga pada akhirnya melalui jawaban-jawaban tersebut, pembaca dibawa melihat keunikkan Kristus.
Ide utama dalam buku ini dipaparkan dalam tujuh bab. Bab pertama dibuka dengan kisah perjalanan hidup seorang Ravi Zacharias mulai dari masa kecilnya, kehidupan keluarganya, keputusasaannya yang mengantarkan ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya hingga akhirnya ia menemukan kebenaran dalam pribadi Yesus. Pada bab pertama ini, pembaca diajak untuk merasakan peristiwa-peristiwa yang dialami penulis sebelum dia memperoleh keyakinan tentang apa yang dipercayainya sekarang. Peristiwa–peristiwa tersebut ditampilkan agar pembaca memahami bagaimana proses pembentukan kepercayaan yang dianut penulis.
Dalam bab-bab selanjutnya, dipaparkan bagaimana jawaban Yesus terhadap keenam pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang membuka rentetan pertanyaan dalam bab-bab selanjutnya merupakan pertanyaan Andreas yang dicatat dalam Injil Yohanes pasal pertama. Andreas bertanya kepada Yesus, “Dimanakah Engkau tinggal?”. Yesus menjawab, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Sebuah pertanyaan yang terkesan remeh, tetapi sebenarnya mempertanyakan tentang asal mula eksistensi Yesus. Yesus adalah Allah, Ia tidak memerlukan sebuah tempat untuknya supaya bereksistensi dan tidak memerlukan sebuah titik awal eksistensinya. Bukti-bukti yang diajukan untuk mendukung klaim ini adalah kelahiran Yesus ke dalam dunia yang tidak terjadi secara alamiah (kelahiran seorang dara) dan kehidupan-Nya di dunia yang tidak bercacat. Melalui argumen-argumen yang dimunculkan, penulis menyimpulkan bahwa jawaban Yesus terhadap pertanyaan yang sederhana ini, telah mempengaruhi cara pandang para murid untuk melewati prasangka-prasangka budaya serta menolong mereka untuk memposisikan ulang kekayaan (hal. 70).
Pertanyaan kedua. Pertanyaan ini dihadapi Yesus setelah diajukan oleh orang Yahudi dalam Yohanes 2:18. Mereka meminta diperlihatkan sebuah tanda. Dalam bab ini, yang berjudul “Anatomi Iman dan Pencarian Rasio” (dalam edisi bahasa Inggris, bab ini berjudul “The Anatomy of Faith Quest for Reason”), berbicara tentang respon Yesus terhadap orang-orang yang meminta bukti-bukti supaya mereka dapat mempercayai perkataan-Nya. Respon yang diberikan Yesus sungguh menarik karena dengan jawaban-Nya tersebut, kenyataan sesungguhnya akan orang-orang yang meminta tanda tersebut terungkap, bahwa mereka sebenarnya tidak sungguh-sungguh mencari kebenaran. Dengan kata lain, bukan tidak adanya tanda yang merisaukan mereka tetapi pesan di balik tanda-tanda itulah yang memancing ketidaknyamanan mereka (hal. 86). Dalam bab ini penulis juga mengangkat tantangan-tantangan dalam membuktikan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Allah dan dari mana memulai pijakan atas tantangan ini.
Pertanyaan ketiga adalah pertanyaan tentang maksud ucapan Yesus dalam perjamuan malam terakhir dengan para murid-Nya. Signifikansi jawaban Yesus dalam bab ini digambarkan penulis sesuai dengan judul dalam bab ini, “Kenikmatan Bagi Jiwa”. Penulis dengan tepat menganalisa jawaban yang diberikan Yesus sehingga menjawab masalah-masalah kebutuhan manusia yang terdalam dalam hidupnya. Kebutuhan manusia yang terdalam adalah kebutuhan akan relasi yang menggabungkan aspek fisik dan spiritual. Dan kebutuhan tersebut dipenuhi Allah melalui pribadi Yesus yang turun ke dunia dan mati di atas kayu salib.
Pertanyaan keempat yang harus dijawab adalah berkenaan dengan problema kejahatan dalam dunia, “Apakah Allah penyebab dari penderitaan?” dan “Apakah penderitaan saya terjadi karena dosa saya?”. Pertanyaan ini mengambil setting pada pasal kesembilan dalam Injil Yohanes ketika Yesus dan para murid-Nya bertemu dengan seorang yang buta sejak dari lahir. Dalam bab ini penulis membandingkan pandangan-pandangan kepercayaan-kepercayaan lainnya terhadap kejahatan kemudian mengemukakan bagaimana pandangan kekristenan dan memberikan kesimpulan bahwa kekristenanlah yang paling mampu menjawab persoalan kejahatan secara mendalam.
Pertanyaan selanjutnya merupakan pertanyaan dari Pilatus yang dijawab Yesus dengan kebisuan-Nya. Melalui empat kali peristiwa kebisuan-Nya, Ravi Zacharias memaparkan makna yang sebenarnya diajarkan Yesus melalui kebisuan-Nya. Sebagai bab penutup, penulis mengemas sebagian dari bukti yang paling meyakinkan mengenai keunikan Yesus Kristus menggunakan setting pada empat taman yang berbeda.
Penulis berusaha mengontraskan setiap jawaban-jawaban Yesus dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jawaban yang diberikan oleh tokoh-tokoh dalam kepercayaan lainnya. Tetapi, sebagaimana judul buku ini memberikan kesan bahwa perbandingan terhadap kepercayaan-kepercayaan yang ada ini akan menempati porsi yang utama, yang terjadi justru sebaliknya. Perbandingan kepercayaan-kepercayaan tersebut hanya merupakan bagian minor dari keseluruhan isi buku ini. Porsi yang lebih besar diisi dengan penjabaran bagaimana respon Yesus terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut. Perbandingan-perbandingan yang tersedia, terkesan tidak dalam dan sangat singkat terutama berkaitan dengan pandangan Islam jika dibandingkan dengan Hinduisme dan Buddisme. Dalam bagian-bagian tertentu, penulis malah lebih membahas sistem nilai ateisme dan naturalisme dibanding ketiga agama besar tersebut.
Buku dengan judul asli “Jesus Among Other Gods” ini, ditulis oleh Ravi Zacharias, seorang filsuf dan penginjil yang dilahirkan di kota Madras, India. Dia telah menyampaikan ceramah-ceramahnya tentang iman Kristen pada lebih dari lima puluh negara dan universitas terkemuka di dunia seperti Oxford, Cambridge, dan Harvard. Pengalamannya yang luas, terutama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang iman Kristen yang diajukan dalam ceramahnya sangat mendukung bagaimana dia menyampaikan pembelaannya tentang keyakinannya dalam buku ini.
Gaya penulisan dalam buku ini mengingatkan pembaca pada gaya tulisan pengarang asal Inggris, C.S. Lewis dalam bukunya “Mere Christianity”. Pembaca dibawa masuk ke dalam argumentasi-argumentasi yang dikembangkan penulis layaknya seperti menikmati alur cerita dalam sebuah novel. Tetapi alur cerita yang disusun tersebut tidaklah terlalu rapih. Dalam mengembangkan pikirannya, penulis mungkin bermaksud agar pengembangan tersebut tidak terkesan terlalu ilmiah dan lebih menyerupai sebuah alur cerita dengan mencoba menulis seperti sedang berdialog dengan pembacanya. Tetapi dalam usahanya tersebut penulis mengorbankan unsur keteraturan dan kekonsistenan. Format penulisan sub-bab seperti sebuah babak dalam sebuah cerita, turut berkontribusi dalam pengorbanan unsur keteraturan tersebut. Dengan format penulisan seperti itu, kesistematisan argumen-argumen yang dibangun dalam sub bab sebelumnya dengan mudah terlupakan. Dalam bab lima, saat akan memberikan penjelasan yang diberikan Alkitab tentang kejahatan, penulis menggunakan istilah “enam elemen” (hal. 176) tetapi dalam halaman-halaman selanjutnya istilah tersebut digantikan oleh pengguanaan istilah lain “empat langkah” (hal. 186). Hal ini menunjukkan penulis tidak konsisten dengan pengunaan istilah yang diajukan.
Penyampaian argumentasi-argumentasi dalam buku ini tidak sepenuhnya menggunakan pendekatan logis. Kadang penulis juga menggunakan pendekatan yang melibatkan emosi pembacanya seperti penggunaan kisah, pengalaman seseorang, analogi serta syair puisi maupun lagu. Pendekatan tersebut dalam beberapa bagian digunakan penulis untuk membantu menjelaskan dan menggambarkan hal yang dimaksudkan penulis kepada para pembaca. Meskipun kadang terdapat penggunaan kisah yang terdengar asing oleh pembaca Indonesia, misalnya saat dia ingin menjelaskan perdebatan yang terjadi antara teis dan ateis, penulis menggunakan peristiwa pengadilan Stokes pada tahun 1925 yang cukup dikenal di Amerika Serikat. Sebagai seorang penulis buku, disatu sisi Ravi Zacharias cukup jeli meramu pendekatan emosional tersebut sehingga hal-hal yang dianggap berat menjadi hal-hal yang ringan untuk dimengerti tetapi disisi lain kadang-kadang penggunaan pendekatan emosional yang terlalu banyak menjadi bumerang bagi pembaca untuk mencoba memahami maksud-maksud sebenarnya dibalik kisah maupun syair lagu yang dipakai tersebut.
Buku setebal 276 halaman ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada tahun 2000 dan enam tahun kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Pionir Jaya. Secara fisik buku ini berukuran standar. Desain cover yang menarik dan artistik cukup menggambarkan isi yang dicoba dibahas dalam buku ini. Secara keseluruhan, cetakan pertama buku ini dalam versi Indonesia cukup nyaman dibaca dengan ukuran dan jenis font yang pas, walaupun masih terdapat beberapa kesalahan, baik itu kesalahan ejaan seperti pada kata “autentikasi” yang seharusnya “otentikasi” (hal. 66) maupun kesalahan ketik seperti penulisan tanda baca (hal. 173), penomoran catatan akhir (hal. 273), dan penomoran kutipan (hal. 71, 146, dan 172).
Sebagai buku yang memperbandingan agama dan wawasan dunia, penjelasan-penjelasan yang diajukan terhadap suatu agama dan wawasan dunia masih sangat minim. Argumentasi-argumentasi yang disajikan juga cenderung ditujukan untuk pembaca Kristen daripada pembaca dari kepercayaan lain. Secara umum, buku ini mengungkapkan keunikan-keunikan dalam pribadi Yesus dan menunjukkan bahwa diri Yesus sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Buku ini terutama cocok dibaca bagi orang Kristen dalam usaha memahami keunikan kepercayaannya. Dalam menghadapi perubahan zaman, orang Kristen harus bersungguh-sungguh memahami apa yang dia percayai dengan begitu dia dapat dengan tegak berdiri mempertanggungjawabkan kepercayaannya pada zaman ini. Karena memang, semua agama tak sama.
Bandung, November 2007.